Skotlandia tidak akan aksi berlutut jelang kick-off lawan Austria

Skotlandia tidak akan aksi berlutut jelang kick-off lawan Austria


Ilustrasi - Bek regu nasional Inggris Tyronne Mings (kedua kiri) yg jadi korban cemoohan rasial dari suporter Bulgaria selesai berdebat dengan wasit Ivan Bebek (kiri) dalam laga lanjutan Grup A Kualifikasi Piala Eropa 2020 di Stadion Nasional Vasil Levski, Sofia, Bulgaria, Senin (14/10/2019) setempat. (ANTARA/REUTERS/Carl Recine)

Jakarta (ANTARA) - Para pemain Skotlandia akan tetap menentang rasisme meskipun pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia melawan Austria, Kamis, tidak akan mengerjakan aksi simbolis dengan berlutut jelang kick-off.

Beberapa pemain regu Liga Utama Skotlandia termasuk pemenang Rangers & rival mereka di Glasgow, Celtic, memilih untuk tidak berlutut sebelum pertandingan mereka akhir pekan lalu.

Tim Rangers, Celtic, Dundee United & Motherwell semuanya berdiri sebelum kick-off setelah memutuskan bahwa itu adalah cara yg lebih tepat untuk menyerukan tindakan & perubahan.

Skotlandia akan mengerjakan hal yg sama pada pembukaan kualifikasi Piala Dunia di Hampden Park, Kamis.

Baca juga: Rangers dipastikan pemenang Liga Skotlandia usai Celtic diimbangi Dundee
Baca juga: Klub Manchester & Merseyside bersatu kutuk rasisme di media sosial

Para pemain Celtic & Rangers bersatu dalam solidaritas dengan Glen Kamara setelah gelandang Rangers itu melaporkan "pelecehan rasis yg keji" selama pertandingan Liga Europa.

UEFA sedang menyelidiki masalah tersebut setelah pemain Slavia Praha Ondrej Kudela membantah tuduhan tersebut.

Penyerang Crystal Palace Wilfried Zaha baru-baru ini jadi pemain Liga Utama Inggris perdana yg berdiri alih-alih berlutut.

Gerakan simbolis itu awalnya dimulai tahun lalu untuk menyatakan dukungan bagi gerakan Black Lives Matter setelah kematian George Floyd di tangan seorang petugas polisi kulit putih di Amerika Serikat.

"Menurut saya peristiwa baru-baru ini & peristiwa masa lalu memberitahu Anda bahwa Anda harus terus mengubah pola pikir orang & mengingatkan mereka," mengatakan manajer Skotlandia Steve Clarke, Senin, seperti dikutip AFP.

"Aksi berlutut, saat awal-awal dilakukan, adalah simbol yg sangat kuat. Itu mungkin kini sudah sedikit mencair.

Baca juga: Southampton lapor polisi soal kasus pelecehan rasial Alex Jankewitz
Baca juga: Mbappe yakin langkah nyata lebih kuat ketimbang slogan antirasisme
Baca juga: Atlet-atlet dunia turut perjuangkan kesetaraan di arena olahraga

Continue reading...
 

Our Partner

Top