Pratinjau Euro 2020, dominasi bola Italia vs disiplin bertahan Turki

Pratinjau Euro 2020, dominasi bola Italia vs disiplin bertahan Turki


Pelatih timnas Italia Roberto Mancini memimpin pemain-pemainnya dalam latihan di Stadion Olimpiade di Roma pada 10 Juni 2021 menjelang pertemuan mereka dengan Turki dalam laga pembuka UEFA EURO 2020 dalam Grup A di stadion itu. ANTARA/AFP/FILIPPO MONTEFORTE.

Jakarta (ANTARA) - Italia akan mengawali perjalanan panjang sebulan penuh Euro 2020 untuk berusaha memenuhi dahaga gelar Piala Eropa yg terakhir dihirup 53 tahun silam pada 1968, dengan menghadapi regu kejutan Turki, dalam laga pembuka pembuka Euro 2020 di Roma pukul 20.00 waktu setempat yg bertepatan dengan Sabtu pukul 02.00 WIB.

Laga di Stadion Olympico ini juga jadi simbol mulai kembalinya normalitas di negara yg pernah jadi episentrum pandemi virus corona global hingga merenggut 127 ribu nyawa & menulari 4,24 juta orang itu.

Italia akan merayakan laga perdana ini dengan hadirnya penonton di stadion yg merupakan terbesar dalam kurun satu setengah tahun terakhir ini. Mereka akan menyaksikan skuad Azurri mengawali perburuan gelar Piala Eropa yg keduanya.

"Kami sudah selama satu tahun menantikan hal ini & kami tak sabar mendengarkan 15.000 orang menyanyikan lagu kebangsaan,” mengatakan bek Italia Leonardo Bonucci seperti dikutip Sky Sports. "Sepakbola dengan ada suporter di dalam stadion itu sungguh berbeda.”

Italia memasuki putaran final Euro 2020 dengan rapor sempurna setelah memenangkan semua dari 10 pertandingan kualifikasi Piala Eropa edisi yg ditunda satu tahun karena pandemi tersebut. Ini sungguh pencapaian hebat setelah hal memalukan terjadi tiga tahun silam saat Azurri tidak lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia.

Tidak cuma itu, Italia juga memiliki catatan mengesankan tak terkalahkan dalam 27 pertandingan berturut-turut, sekalipun mungkin tak mempunyai pemain-pemain megabintang seperti dimiliki pemenang bertahan Portugal atau pemenang dunia Prancis. "Kami tak punya pemain seperti (Romelu) Lukaku atau Cristiano Ronaldo. Kekuatan kami adalah tim,” mengatakan Bonucci.

Baca juga: Mancini bidik semifinal & Italia tampil menghibur di laga pembukaan

Namun lawan Bonucci cs sudah pasti bukan lawan sembarangan. Turki menciptakan kejutan setelah menahan seri & mengalahkan 2-0 Prancis dalam fase kualifikasi. Turki menduduki urutan kedua Grup H pada putaran kualifikasi dengan cuma sekali kalah.

Ini kelima kalinya Turki lolos ke putaran final Piala Eropa, & dalam dua dari empat partisipasi sebelumnya, Turki menciptakan kejutan lolos ke perempat final 2000 & empat tahun kemudian pada 2004 lolos ke semifinal untuk akhirnya menempati peringkat ketiga.

Oleh karena itu, ada alasan bagi Italia untuk mewaspadai Turki sekalipun tampil di kandang sendiri di bawah gempita suara penonton setelah selama satu setengah tahun terakhir stadion-stadion sunyi senyap dari suara suporter.

"Dalam setiap pertandingan pembuka ada kejutan-kejutan & saya harap kami dapat memancarkan salah satunya,” mengatakan pelatih Turki Senol Gunes.

Kemungkinan lineup

Italia: Gianluigi Donnarumma; Alessandro Florenzi, Leornardo Bonucci, Giorgio Chiellini, Leonardo Spinazzola; Barella, Jorginho, Manuel Locatelli; Domenico Berardi, Ciro Immobile, Lorenzo Insigne

Turki: Ugurcan Cakr; Zeki Celik, Merih Demiral, Caglar Soyuncu, Umut Meras; Okay Yokuslu, Ozan Tufan, Hakan Calhanoglu, Cengiz Under, Kenan Karaman; Burak Ylmaz


Turki rapat bertahan

Dari kemungkinan line-up yg dirilis laman UEFA itu, Turki kemungkinan memasang formasi 4-1-4-1. Dengan formasi ini, Senol Gunes akan mengandalkan serangan balik menghadapi Italia yg selama dilatih Mancini jadi salah satu regu yg dominan mengatur sirkulasi bola.

Turki akan rapat menjaga daerah permainannya untuk menciptakan Italia frustrasi. Dalam skenario ini, Okay Yokuslu jadi penghubung penting antar-lini Turki. Gelandang bertahan Celta Vigo ini akan berusaha menghambat gerak maju pemain-pemain Italia & membatasi manuver mereka dalam zona yg sempit.

Tapi Turki tetap memasang striker Burak Yilmaz agak jauh dari skema bertahan guna memfasilitasi peluang melancarkan serangan balik yg diinisiasi umpan panjang-umpan panjang dari rekan-rekannya ketika pemain-pemain Italia keasyikan membongkar pertahanan mereka sehingga lengah menutup celah serangan balik Turki.

Baca juga: Turki amankan tiket Piala Eropa meski imbang lawan Islandia

Yokulu akan mengganggu setiap pemain Italia yg berusaha menerima bola, sedangkan Caglar Soyuncu & Merih Demiral dapat setiap waktu merangsek ke depan begitu memiliki kesempatan menyerang. Turki akan memaksa Italia bolak balik tanpa dapat menembus mereka dengan memotong setiap umpan dari satu pemain Italia kepada pemain Italia lainnya.

Taktik ini efektif saat Turki menggasak Belanda 4-2 pada 25 Maret dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2022. Turki akan berusaha menjaga lapangan tetap sempit & memusat ke tengah serta membentuk pola segitiga terbalik guna mencegah kemungkinan Italia memakai opsi umpan dari bek ketika gelandang sulit menembus.

Ini berarti menutup kemungkinan duo bek Leonardo Bonucci & Giorgia Chiellini menolong serangan, khususnya Bonucci yg piawai melepas umpan jauh kepada rekan-rekannya di depan. Tujuan utama Turki adalah membatasi ruang gerak Jorginho cs dalam menerima umpan atau mendikte penguasaan bola.

Italia manfaatkan lebar lapangan

Menghadapi Turki yg kemungkinan akbar memagari rapat daerahnya, Italia hampir pasti memasang formasi 4-3-3. Azzurri hafal dengan teknik yg mungkin dipakai Turki itu yg memang sering diadopsi oleh salah satu dari dua negara Eropa yg berwilayah di dua benua itu.

Mancini sendiri berhasil menciptakan regu amat kuat nan percaya diri yg mendominasi penguasaan bola berkat hadirnya berbagai opsi lapangan tengah & serang yg dinamis yg menciptakan ruang bermanuver kepada regu guna terus mengatur sirkulasi bola. Sepertinya ini yg akan berusaha diterapkan Italia di Roma nanti.

Baca juga: Italia mengalahkan Ceko 4-0 pada laga pemanasan Euro 2020

Untuk merusak kepaduan pertahanan Turki, Italia mengandalkan dua pemain kreatif yg selama ini pandai merusak pertahanan rapat lawan, yakni Lorenzo Insigne & Nicolò Barella.

Insigne jadi sosok menonjol di Napoli musim ini dengan mencetak 19 gol & tujuh assist. Pemain sayap mungil lincah ini akan bermain dengan cara yg sama sekali berbeda dari rekannya Berardi yg menempati sayap berlawanan.

Sebagaimana sering terlihat di lapangan, termasuk saat menang 4-0 melawan Ceko pada 5 Juni, Berardi akan tetap melebar ketika Italia merancang serangan sebelum menusuk secara diagonal ke kotak penalti.

Sebaliknya, Insigne tetap bermanuver di separuh ruang sektor kiri pertahanan lawan untuk memberi kesempatan kepada bek sayap Leonardo Spinazzola menekan dari kiri.

Pergerakan seperti ini bakal sulit dijejak Turki karena Yokulu sulit dapat terus-terusan berkomunikasi dengan para bek tengah Turki.

Baca juga: Mancini perpanjang kontrak sebagai pelatih Italia hingga 2026

Italia akan terus mengurai rapatnya pertahanan Turki dengan memastikan pemain-pemainnya melebar ketika pada tahap awal membangun serangan sehingga membuka ruang kepada para gelandang dalam menusuk dari tengah.

Italia cuma perlu memastikan bermain dengan cara yg sama seperti belakangan ini diterapkan yg berpegang kepada prinsip CARP; Costruzione (merancang serangan), Ampiezza (lebar lapangan), Rifinitura (bergerak antar lini di sepertiga akhir lapangan) & Profondita (kedalaman). Ini dapat menciptakan Italia menjinakkan regu segigih Turki.

Statistik kedua tim

Italia tidak pernah kalah di Stadio Olimpico dalam baik Piala Dunia maupun Piala Eropa, berkat menang enam kali & dua kali seri.

Italia tak pernah kebobolan dalam enam laga terakhir di Stadio Olimpico.

Turki cuma kemasukan tiga gol dalam 10 pertandingan kualifikasi Euro 2020 sehingga jadi regu bercatatan pertahanan terbaik di Eropa bersama Belgia.

Italia jadi satu dari dua regu bercatatan 100 persen selama kualifikasi Euro 2020, selain Belgia.

Italia mencetak 37 gol dalam 10 laga kualifikasi Euro 2020 atau rata-rata 3,7 gol per pertandingan. Jumlah ini sama dengan total 37 gol dari 22 pertandingan Azurri dalam kualifikasi Euro 2016 & Piala Dunia 2018.

Turki kalah pada semua dari empat laga pembuka putaran final Euro sebelumnya, termasuk kalah 1-2 melawan Italia dalam Euro 2000.

Baca juga: Perjalanan berliku UEFA mewujudkan Euro 2020
Baca juga: Penalti Panenka di final Euro 1976, teknik unik yg dicatat sejarah
Baca juga: Terbukti negatif COVID-19, Llorente akan kembali ke skuad Spanyol

Continue reading...
 

Our Partner

Top