Platini hadapi sidang kasus FIFA pekan depan

Platini hadapi sidang kasus FIFA pekan depan


Arsip - Seorang wartawan berswafoto dengan mantan kepala asosiasi sepakbola Eropa EUFA Michel Platini saat Platini meninggalkan kantor polisi yudisial dimana ia ditahan untuk diinterogasi mengenai penghargaan turnamen sepakbola Piala Dunia 2022 di Nanterre, Prancis, Rabu (19/6/2019). (REUTERS/GONZALO FUENTES)

Jakarta (ANTARA) - Michel Platini akan menghadapi jaksa Swiss selama sidang tiga hari berturut-turut pekan depan saat dia menjawab pertanyaan dalam dua kasus yg menimpa sepak bola dunia & para pemimpinnya, dulu & sekarang.

Platini akan diinterogasi di Bern pada Senin & Selasa atas kasus korupsi yg menghancurkan mimpinya untuk mengambil alih pimpinan badan sepak bola dunia FIFA setelah jatuhnya Sepp Blatter.

Pada Rabu, dia diperkirakan berada di Sarnen, 80 kilometer ke timur, tetapi kali ini sebagai saksi dalam penyelidikan atas tindakan orang yg mengambil alih FIFA, Gianni Infantino.

Ini cuma dua dari proses yg melibatkan FIFA.

Baca juga: FIFA gugat Sepp Blatter & Michel Platini


Berikut ini AFP mengumpulkan kasus-kasus hukum terkait Platini.

Kasus dua presiden

Ketika Blatter lengser sebagai Presiden FIFA pada 2015, dia dengan cepat menyeret calon penggantinya & kepala badan sepak bola Eropa, Platini bersamanya.

FIFA menjatuhkan sanksi kepada kedua pria itu berupa larangan aktif dalam kegiatan sepak bola pada akhir 2015. Tuduhan kepada Platini berkisar pada pembayaran 2 juta franc Swiss dari FIFA yg disahkan oleh Blatter pada 2011.

Jaksa Swiss menanggapi dengan membuka penyelidikan kepada kedua pria tersebut atas tuduhan "manajemen tidak loyal", "pelanggaran kepercayaan" & "penipuan".

Saat sidang terakhir Platini pada Senin & Selasa di Bern, dia & Blatter bersikeras bahwa, meskipun tidak ada kontrak tertulis, pembayaran, yg dilakukan sebelum Platini memilih untuk tidak menantang Blatter dalam pemilihan FIFA 2011, adalah untuk pekerjaan konsultasi pada 1999-2002.

Platini menegaskan bahwa pengangkatan kasus ini "direncanakan" untuk memblokir dia dari kursi kepresidenan FIFA, yg malah diraih oleh mantan orang nomor dunia UEFA Infantino.

Platini mengerjakan serangan balik pada akhir 2018 dengan mengajukan pengaduan ke pengadilan yg menuduh musuh lawan tidak disebutkan namanya mengerjakan "kecaman fitnah" & "asosiasi kriminal".

Situasi pun berubah pada Rabu nanti saat Platini muncul sebagai saksi dalam penyelidikan jaksa Swiss kepada Infantino.

Baca juga: Presiden FIFA diselidiki karena pertemuan dengan Jaksa Agung Swiss

Terpilih pada 2016 dengan janji untuk "mengembalikan citra FIFA", Infantino tahun lalu jadi target dari prosedur kriminal untuk dugaan "menghasut untuk menyalahpakai otoritas", "pelanggaran kerahasiaan resmi" & "menghalangi proses pidana" selama tiga pertemuan rahasia pada tahun 2016 & 2017 dengan Michael Lauber, yg saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Kejaksaan Federal Swiss (MPC).

Pertemuan tersebut memicu kecurigaan adanya kolusi atas kasus-kasus yg melibatkan FIFA.

Infantino mengatakan dia harap menunjukkan kepada MPC "bahwa FIFA baru adalah dunia yg jauh dari yg lama", yg sudah disesatkan "oleh pejabat yg korup".

Jaksa Swiss dalam kasus tersebut juga mengatakan dia harap tahu tentang penerbangan jet pribadi yg diambil Infantino pada 2017 yg dibayar oleh FIFA.

Baca juga: FIFA sebut Swiss tak punya alasan selidiki Infantino
Baca juga: Komisi Etik FIFA hentikan penyelidikan kepada kasus Infantino


Kasus Piala Dunia Qatar -

Penyelidikan paling memalukan untuk FIFA, karena bayang-bayang yg ditimbulkan pada event andalannya, menyangkut penetapan tuan rumah Piala Dunia 2022 & juga melibatkan Platini.

Pemungutan suara pada bulan Desember 2010 untuk menjadikan Qatar sebagai tuan rumah sudah jadi subyek investigasi oleh FIFA & sistem peradilan Swiss & Prancis.

Jaksa Swiss sudah menyelidiki "pencucian uang & manajemen yg tidak adil" sejak Mei 2015. Sistem peradilan Prancis sedang menyelidiki "korupsi aktif & pasif" sehubungan dengan makan siang yg diadakan pada November 2010 yg diselenggarakan oleh presiden Prancis saat itu Nicolas Sarkozy yg tamunya termasuk dua senior Eksekutif Qatar & Platini, yg sebagai presiden UEFA adalah salah satu yg memiliki hak suara di FIFA.

Piala Dunia 2018 di Rusia, dianugerahi suara yg sama, & Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, yg dianugerahkan pada 2004, juga diwarnai oleh kecurigaan korupsi.

Swiss pada bulan April harus menghentikan penyelidikan atas penetapan tuan rumah Piala Dunia 2006 kepada Jerman, karena peraturan pembatasan.

Baca juga: Rusia serahkan tanggung jawab tuan rumah Piala Dunia 2022 kepada Qatar
Baca juga: FIFA yakin krisis diplomatik Qatar tak pengaruhi Piala Dunia 2022

- Kasus suap TV -

Selain jadi sumber pendapatan utama FIFA, hak siar televisi juga jadi sumber utama masalah hukum, dimulai dengan tujuh penangkapan di Zurich menjelang pemilihan presiden FIFA 2015.

"Fifagate" khususnya berkaitan dengan penjualan hak TV kontinental oleh pejabat sepak bola di Amerika, yg juga anggota komite FIFA, dalam kasus di mana jaksa penuntut AS dapat mengklaim yurisdiksi.

Pengadilan AS sudah menghukum warga Paraguay Juan Angel Napout sembilan tahun penjara & warga Brazil Jose Maria Marin empat tahun penjara. Mantan kepala konfederasi Amerika Utara & Tengah serta Karibia (CONCACAF) Jeffrey Webb dari Kepulauan Cayman sudah mengaku bersalah & setuju untuk membayar $ 6,7 juta. Dia sedang menunggu hukuman.

Sementara itu, jaksa Swiss mengatakan pada Februari bawha mereka akan mengajukan banding atas pembebasan Nasser Al-Khelaifi, presiden Paris Saint-Germain & ketua grup penyiaran beIN Media pada bulan Oktober, terkait alokasi hak siar FIFA Afrika Utara & Timur Tengah untuk Piala Dunia 2026 & 2030.

Baca juga: Qatar & Rusia bantah tudingan suap Piala Dunia
Baca juga: Qatar bakal upayakan Piala Dunia 2022 terjangkau bagi penggemar

Continue reading...
 

Our Partner

Top