Moeldoko Jokowi Melawan Dinasti Politik SBY Mega?

gamebocor

Administrator
Staff member
Spoiler for Moeldoko & Jokowi:
Moeldoko  Jokowi Melawan Dinasti Politik SBY  Mega?




Sebelumnya penulis sudah menciptakan artikel yg menganalisis adanya simbol perlawanan kepada dinasti politik yg menyebabkan Jenderal TNI Purn Moeldoko mengerjakan gerakan klandestin mengkudeta Partai Demokrat (PD) dari trah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Skenario tersebut patut diperhitungkan karena kudeta PD tidak memberikan keuntungan apa-apa kepada Jokowi Megawati & PDIP. Bahkan menghasilkan ekses negatif kepada citra politik Jokowi Megawati.

Sehingga tak salah kiranya kita menduga bahwa yg dilakukan Moeldoko sebagai bentuk perlawanannya kepada sisa-sisa nilai feodalisme, sebuah dinasti politik di mana kekuasaan dipegang secara turun temurun, dari orang tua ke anak. Hal yg terjadi pada SBY-AHY, Megawati-Puan, & Jokowi-Gibran.

Oleh karena itu, seandainya Jokowi benar-benar mengharapkan kelanggengan dinasti politiknya, ia tentu akan turun tangan langsung memberikan pernyataan kepada kisruh Demokrat yg melibatkan Kepala Staf Kepresidenannya. Tapi kenyataannya tidak, Jokowi memilih diam & mewakilkan pernyataannya secara normatif kepada bawahannya.

Sumber :Tempo [Konflik Demokrat, Jokowi Minta Mahfud & Yasonna Tak Memihak]

Itulah mengapa, hingga saat ini masih banyak pihak yg meragukan tidak adanya sangkut paut Jokowi dengan kudeta partai berlambang mercy.

Seperti pendiri Partai Ummat Amien Rais yg menduga bahwa tindakan luar biasa Moeldoko kepada Partai Demokrat, mendapatkan restu dari Presiden.

"Saya tidak yakin Moeldoko berani, seberani itu tanpa kerlingan atau kedipan dari lurah kita itu," mengatakan Amien Rais pada 13 Maret 2021.

Mantan Ketua MPR itu beralasan bahwa hingga saat ini Jokowi belum mengeluarkan satu patah mengatakan pun terkait tindakan Moeldoko. Padahal menurut Amien Rais banyak pihak yg mendesak Jokowi mencopot Moeldoko dari jabatan KSP. Desakan itu disebutnya bukan dari kelompok oposisi saja, tetapi juga dari para pendukung Jokowi, supaya tak terkesan mengotori rezim.

Sumber :Tempo [Amien Rais Tuding Moeldoko Berani Ambil Demokrat karena Kerlingan Lurah]

Menarik, sebab sebelumnya pada 11 Maret 2021, Menkopolhukam Mahfud MD menuturkan bahwa meski Presiden Jokowi kaget ketika mendengar kabar Moeldoko ikut dalam internal Partai Demokrat, ia terlihat happy-happy saja.

Sumber :pikiran Rakyat [Soal Moeldoko, Mahfud MD: Presiden Jokowi Kaget Betul, Tapi Happy-happy Saja Tuh]

Pada 9 Maret 2021 lalu, Politikus Demokrat Andi Arief membeberkan adanya pertemuan antara Presiden Jokowi dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Istana Bogor. Dalam pertemuan itu mereka turut membicarakan soal KLB Moeldoko. Namun uniknya di dalam diskusi tersebut tidak ada deal atau arahan khusus. Hasil pertemuan cuma menghasilkan kesimpulan supaya para kader Demokrat dapat menyelesaikan secara tuntas masalah ini.

Sumber :CNN Indonesia [VIDEO: Andi Arief Ungkap Pertemuan AHY & Jokowi]

Berdasarkan paparan tersebut, timbul pertanyaan di benak kita semua. Apakah pasifnya Presiden Jokowi merupakan manuver politiknya kepada dinasti politik itu sendiri? Bukankah Moeldoko yg memiliki hubungan erat dengannya dapat menjadikan Partai Demokrat versi KLB nantinya sebagai rumah baru bagi Jokowi? Mungkinkah Presiden Jokowi harap melepaskan diri dari stigma dinasti politik yg menempel padanya kalau ia tetap bersama PDIP?

Ada skenario yg mengatakan bila Jokowi harap membangun dinasti politik sendiri lewat Partai Demokrat versi KLB. Tapi alur seperti itu baru dapat terbukti kalau anaknya, Gibran Rakabuming turut pindah ke PD versi KLB Deli Serdang.

Ingat, tak selamanya anak menurut ke ayah ataupun keluarga. Contohnya saja Mumtaz Rais putra dari Amien Rais yg tetap berada di PAN, bahkan meyakini bahwa partai baru ayahnya akan nyungsep sebelum tumbuh. Ada pula Rachmawati Soekarnoputri yg memilih berada di Gerindra ketimbang separtai dengan Megawati.

Dengan mengatakan lain, ada kemungkinan KLB Demokrat Deli Serdang yg menempatkan Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat baru akan mengajak Jokowi turut bergabung. Semuanya demi melepaskan diri dari kesan dinasti politik yg selama ini sudah melekat, sekaligus jadi simbol perlawanan kepada dinasti politik Cikeas (SBY-AHY-PD) & Teuku Umar (Megawati-Puan-PDIP).

Apakah skenario seperti ini akan terjadi? Apakah demi melawan manuver politik Moeldoko Jokowi, Cikeas & Teuku Umar akan bersatu? Apakah musuh kemarin jadi teman saat ini? Entahlah.

Namun ada sesuatu yg menarik saat ada isu Moeldoko berjumpa Megawati beberapa waktu lalu setelah terjadinya kudeta Partai Demokrat. Pertemuan itu direspon politikus Demokrat kubu AHY, Andi Arief sebagai aksi adu domba.

"Semua ngerti ini mau adu domba SBY & Ibu Mega, mau adu domba Pak Jokowi & Ibu Mega," ujar Andi pada 15 Maret 2021.

Sumber :Suara [Habis Kudeta, Moeldoko Kabarnya Bertemu Megawati, Andi Arief: Mau Adu Domba]

Hal ini mengesankan bahwa PD kubu AHY tak harapkan Megawati PDIP mendukung Moeldoko. Bukankah ini tandanya Cikeas harap merapat ke Teuku Umar demi melawan PD Demokrat kubu Moeldoko?

Bagaimanakah kelanjutannya? cuma waktu yg dapat menjawabnya. Sembari menunggu, mari siapkan cemilan. Akankah terbentuk aliansi Moeldoko Jokowi melawan dinasti politik Cikeas Teuku Umar?





Hari ini 18:52
 

Our Partner

Top