Beruntung Warga Jakarta Punya Gubernur Anies

gamebocor

Administrator
Staff member
Jika Anda berpikir ini tulisan buzzer, mending baca tulisan ini hingga selesai. Dengar-dengar juga Pak Anies gak pakai buzzer, tentu ini bukan tulisan pesanannya kan.

Quote:
Beruntung Warga Jakarta Punya Gubernur Anies

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerima tiga penghargaan dari KPK RI di peringatan hari anti korupsi sedunia 2018. - tribunjakarta.com


Lagi pula saya warga daerah yg tidak paham betul kehidupan di ibukota. Namun yg jelas, bagi saya warga Jakarta beruntung punya Gubernur Anies & label Jakarta Sentris yg melekat sebagai "keistimewaan" daerah ibukota.


Memiliki Gubernur yg juga nyambi influencer. Setiap perbuatannya sering diikuti. Meski cuma memimpin satu provinsi, namun satu Indonesia menyorotnya. Dan pengaruhnya yg kuat & luas. Entah kenapa media sering menguntit beliau. Kadang bikin iri.


Berbeda dengan gubernur lainnya yg tidak terlalu disorot tentang kebijakannya & apa saja yg dikerjakan. Namun bukan berarti ini semua menunjukkan disparitas kualitas. Carilah di tulisan ini apakah ada disebut Gubernur Anies lebih baik dari gubernur daerah lain?


Juga tidak disebutkan Gubernur Anies lebih baik dibandingkan gubernur terdahulu. Karena seburuk-buruknya Gubernur DKI selama gak doyan korupsi & mau kerja, itu sudah baik & syukuri saja.


Dulu saat Pilgub Jakarta, Anies dipandang "tidak ada apa-apanya" dibanding BTP atau Ahok. Dengan menyampingkan kondisi politik saat itu. Terpenting adalah pencapaiannya saat ini.


Barangkali beberapa warga Jakarta tidak menyadari keunggulan yg dimiliki oleh gubernurnya. Ini bukan soal kualitas seorang Anies Baswedan. Namun kondisi yg mendukungnya. Seolah segala sumber daya untuk jadi pemimpin terbaik ada disitu.


Seolah bekerja diawasi Kim Jong Un



Sorotan media pada ibukota begitu besar. Belum lagi peran oposisi yg seimbang. Dan jangan lupakan peran netizen yg atas kombinasi ini seolah menciptakan celah kekurangan sedikitpun langsung habis dikuliti. Jadi transparan.


Siapapun Gubernurnya, selama masih niat mau kerja & tidak korupsi. Maka bekerja di kondisi dalam "tekanan" seperti itu. Setidaknya ada hasil yg dapat dibanggakan. Ini seolah bekerja diawasi mandor yg seperti Hitler maupun Kim Jong Un. Kebayangkan gimana?


Meskipun kondisi seperti itu terkesan gaduh karena terlalu banyak kritik & politisasi. Kontrol yg kuat dari segala elemen politik & masyarakat, menciptakan sebuah pemerintahan berjalan dengan baik. Kiranya kondisi begitu lebih baik dibandingkan di daerah.


Adem ayem, diam-diam kena OTT KPK


Dimana diluar ibukota kondisinya memang adem ayem kelihatannya, tetapi tau-tau saja bangun tidur baca berita ditangkap KPK (gubernur). Sekali lagi, warga DKI beruntung. Ingat ya, ini bukan soal sosok figur. Tapi keseluruhan sistem pemerintahan.


Mungkin beberapa warga ibukota negara tidak menyadari. Namun sebagai warga daerah, saya sadari betul disparitas daerah & pusat.


Entah kenapa media sering menyoroti apa yg terjadi di ibukota. Setiap gerak-gerik gubernurnya sering diikuti. Bahkan saya pernah baca berita, ada pintu rumah warga yg menghalangi jalan trotoar. Tidak lama setelah itu langsung dibereskan.


Warga Jakarta bahkan satu negara ini dapat dengan mudah mengetahui capaian kinerja Gubernur beserta jajarannya. Seolah siapapun dapat mengawal jalannya pemerintahan.


Bagaikan cari bahan skripsi


Mungkin bagi warga Jakarta bukan persoalan susah untuk tahu topik terkini di sekitarnya. Apa saja yg sedang, sudah & harus dikerjakan oleh gubernurnya. Karena topik tentang Ibukota akan sering jadi Headline di banyak media nasional.


Tapi di daerah, menurut apa yg saya rasakan. Untuk mengetahui apa yg sedang dikerjakan pemerintah daerah rasanya bagaikan mencari bahan skripsi. Mesti browsing dulu satu-satu.


Ini bukan karena pemerintah daerahnya yg gak kerja. Namun kurang ekspose & sosialisasi. Memang masuk berita, tetapi gaungnya kurang. Dan tidak menjangkau banyak masyarakat.


Saya tahu pemberitaan saat ini memang sangat Jakarta Sentris. Mungkin sulit mengubahnya jadi Indonesiasentris. Tapi setidaknya kalau daerah mendapat porsi sorotan yg lebih memadai. Harapannya supaya lebih banyak pemimpin & jajarannya yg mengalami bekerja dibawah "pengawasan Kim Jong Un".


Sidak dadakan baru bergerak


Pernah kejadian Presiden Jokowi marah ketika kunjungan ke Medan, Sumatera Utara pada tahun 2017. Mertua Walikota Medan yg sekarang itu marah sebab kondisi jalan rusak tak kunjung diperbaiki.


Barulah setelah "di gebrak" tadi. Tak lama langsung diperbaiki. Kemudian terdengar Walikota Medan saat diciduk KPK dengan kasus PU. Gak tahu deh apa kejadian itu saling terkait.


Mungkin kita memang perlu sesuatu yg seperti itu. Dipelototi 24 jam baru bekerja benar.


Pecahkan saja gelasnya



Dulu saya heran sama politik di Jakarta. Gaduh sekali, apa-apa dikritik & demo dimana-mana. Kondisi seperti ini tidak cuma berlaku pada masa Anies Baswedan, tetapi juga sewaktu kepemimpinan Ahok, Jokowi & gubernur terdahulu lainnya.


Yang sebenarnya itu lebih baik. Dibanding yg kelihatannya tidak terjadi apa-apa, tetapi diam-diam pakai rompi orennya KPK. Lebih baik gaduh, transparan & buka-bukaan.


Seperti mengatakan Mas Rangga AADC : "pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh hingga gaduh" biar semua dunia tahu.


Kiranya gelas kaca yg pecah lebih baik dibanding gelas retak rambut yg terus dipajang di lemari kaca. Terlihat baik-baik saja namun pecah ketika dibutuhkan.

Rianda Prayoga @riandaprayoga #NapaweiPost
Binjai, 16 Maret 2021 Hari ini 21:53
 

Our Partner

Top