BERKAT G30S, PENGUASA BARAT BERPESTA-PORA

gamebocor

Administrator
Staff member
BERKAT G30S, PENGUASA BARAT BERPESTA-PORA


OKTOBER 1965. Dunia buncah. Disentak berita dahsyat mengagetkan. Malapetaka melanda Indonesia. Lebih mengerikan dari Nero membakar Roma, melebihi korban bom atom menimpa Hiroshima, lebih dahsyat dari pertempuran Stalingrad yg jadi titik-balik Perang Dunia kedua, lebih menegakkan bulu roma dari Perang Korea & Perang Vietnam.

BERKAT G30S, PENGUASA BARAT BERPESTA-PORA


Indonesia berlumuran darah. Manusia tak berdosa, yg tak melawan dibunuh secara semena-mena. Mayat-mayat bergelimpangan, berhanyutan di Bengawan Solo, di Sungai Musi, di Sungai Asahan, & sungai-sungai lainnya. Bertebaran kuburan tanpa nisan. Terjadi pembantaian manusia yg tak ada taranya dalam sejarah Indonesia, bahkan dalam sejarah dunia. Inilah muara dari rencana Sang Angkara Murka, demi menggulingkan Bung Karno.
Keputusan untuk menjatuhkan Presiden Soekarno ini sudah diambil oleh Presiden Eisenhower pada tanggal 25 September 1957, lima bulan sebelum proklamasi PRRI.
Dengan Peristiwa 30 September 1965, di Indonesia terjadi pembunuhan enam jenderal & seorang perwira menengah pucuk pimpinan Angkatan Darat. Belum pernah terjadi dalam sejarah peperangan mana pun, baik dalam Perang Dunia pertama, maupun Perang Dunia kedua, Perang Korea, maupun dalam Perang Vietnam, sekian banyak perwira tinggi, pucuk pimpinan Angkatan Darat terbunuh dalam satu peristiwa, dalam satu malam. Dan peristiwa ini disusul oleh penangkapan & pemenjaraan akbar besaran tanpa melalui pengadilan. Berlangsung pembantaian manusia, pembasmian kaum kiri, pelarangan Partai Komunis Indonesia, pelarangan penyebaran Marxisme-Leninisme di seluruh Indonesia. Peristiwa bermuara pada penggulingan Bung Karno; hingga berubahnya Indonesia dari mercusuar perjuangan melawan imperialisme jadi negeri yg mengekor pada kekuasaan asing, khususnya Amerika Serikat. Ada yg menilai kejadian ini sebagai

satu peristiwa yg paling menciptakan zaman dalam sejarah Asia sesudah Mao Zedong tampil berkuasa di Tiongkok

Pemerintah Johnson sangat gembira dengan berita dari Indonesia. Bertrand Russel menulis, bahwa The Times, London, memperkirakan Telah terbunuh sekitar satu juta orang selama empat bulan. Jadi dalam empat bulan di Indonesia terbunuh sebanyak dalam dua belas tahun perang Vietnam Dalam waktu kurang dari satu tahun sesudah terjadinya G30S & pembantaian berdarah, James Reston, kolumnis The New York Times menulis menunjukkan kekaguman atas kejadian ini sebagai pancaran cahaya di Asia. Tahun 1967, Richard Nixon melukiskan Indonesia sebagai hadiah terbesar di daerah Asia Tenggara.

U. Alexis Johnson, seorang Wakil Menteri Luar Negeri AS, 1966, menyatakan bahwa pembasmian komunis di negeri Indonesia yg akbar adalah peristiwa yg setara dengan Perang Vietnam, yg barangkali adalah titik balik historis di Asia zaman ini. Rex Mortimer menulis, Banyak orang Barat kala itu justru melihat pembunuhan massal tersebut dengan penuh rasa puas & kelegaan sebagai penghilangan sepenuhnya ancaman & kendala bagi kepentingan mereka, sementara kalangan lain melihatnya sebagai pemecahan bagi jalan buntu politik tak terelakkan yg disesali & memalukan, namun masih dapat dimaklumi. Pembunuhan ratusan ribu manusia yg kebanyakan tidak mengerti, mengapa mereka harus dibunuh itu tidak banyak menarik perhatian apa lagi menggugat perikemanusiaan kita dibandingkan dengan peristiwa-peristiwa lain di belahan dunia lain, yg sebenarnya dalam dimensi maupun skalanya jauh lebih kecil.

Dr. Brad Simpson, Princeton University, menulis, Pembunuhan besar-besaran di Indonesia adalah satu bentuk teror yg manjur, syarat yg tak boleh tidak untuk mengintegrasikan Indonesia masuk sistem ekonomi politik regional & internasional, untuk peningkatan rezim militer yg modern & untuk menggulingkan Soekarno. Rakyat awam bingung, terpana. Buruh, tani, massa rakyat tercengang. Bahkan anggota-anggota PKI umumnya terheran-heran. Tak tahu apa sesungguhnya yg terjadi. Tak pernah membayangkan akan terjadinya peristiwa yg demikian. Yang terpaku dalam pikiran adalah:

jika berlangsung pemilihan umum, PKI akan mencapai kemenangan besar. Tak ada yg membayangkan, apalagi siap menghadapi bencana berupa pembasmian, pembantaian manusia. Karena itu, peristiwa ini adalah maha-musibah bagi rakyat, bagi kaum kiri, bagi indonesia.

Dari hasil penelitian CIA sendiri mengenai operasinya di Indonesia ini, pemerintah Amerika memainkan peranan penting dalam satu pembunuhan massal yg paling buruk dalam zaman ini dengan memberikan nama ribuan pimpinan Partai Komunis kepada tentara Indonesia, yg membunuh mereka dalam pembantaian berdarah yg diperkirakan hingga setengah juta manusia. Tapi para penguasa Barat, khususnya Amerika Serikat bergendang paha, bahkan berpesta-pora. Gembira ria melebihi kegembiraan seusai Perang Dunia perdana & Perang Dunia kedua mengalahkan fasisme. Bagi penguasa Barat, khususnya Amerika Serikat, peristiwa ini bukanlah suatu kebetulan, yg terjadi di luar dugaan. Sudah lama diharapkan, & dinantikan bahwa peristiwa ini akan terjadi. Bukan cuma harapan, tetapi direncanakan dengan perhitungan yg masak & sudah diambil berbagai tindakan dengan persiapan kekuatan yg cukup untuk mewujudkan kejadian ini.

Pada 1950-an, pemerintahan Eisenhower bahkan memutuskan bahwa, kalau diperlukan, mereka akan mendukung terbelahnya Indonesia & terpisahnya Jawa (yang merupakan basis golongan kiri) dari wilayah lain di negara ini. Ada bukti pembicaraan di lingkaran-lingkaran diplomatik Amerika Serikat, Inggris, & Sekutu sebagai poros yg membenci perkembanganpolitik di Indonesia beserta solusinya. Menurut sudut pandang kami, tentu saja, upaya coup PKI yg gagal kiranya merupakan perkembangan paling efektif untuk membalikkan kecenderungan politik di Indonesia, begitu mengatakan Howard P. Jones, Duta Besar AS untuk Indonesia, Maret 1995.

Usahakan terjadinya suatu perebutan kekuasaan, suatu coup detat di mana terlibat Partai Komunis Indonesia. Ini dapat dijadikan dalih untuk membasminya. Inilah gagasan, yg sesungguhnya terwujud dalam kenyataan. Partai Komunis tertua di Asia, terbesar di luar negeri-negeri sosialis, terbesar sesudah Partai Komunis Uni Sovyet & Partai Komunis Tiongkok, Partai Komunis Indonesia jadi berantakan. Semua pimpinan tertingginya terbunuh atau dipenjarakan. Lebih satu juta anggotanya dibunuh, dipenjarakan. Kekuatan kiri Indonesia, kaum Soekarnois pendukung Bung Karno dibasmi habis-hadapatn.

CIA membikin pemaparan palsu mengenai apa yg terjadi, kemudian diterbitkan berupa sebuah buku Indonesia 1965, coup Yang Prematur, yg ketahuan sebelumnya. Para pejabat Amerika, wartawan, & para sarjana yg berhubungan dengan CIA menciptakan dongeng, bahwa pembunuhan berdarah itu adalah reaksi mendadak dari rakyat yg spontan kepada terorisme PKI. Maka, dalam Oktober 1965, para jenderal Angkatan Darat mengambil langkah, menyerang balik kepada kup para kolonel yg gagal, jadi program anti-komunis, & mengubah Indonesia yg kaya sumber alam itu dapat dieksploitasi oleh korporasi-korporasi raksasa Amerika.

Jika Vietnam adalah kekalahan akbar sesudah Perang Dunia kedua, maka Indonesia adalah satu kemenangan terbesar. Gabriel Kolko menyimpulkan: penyelesaian terakhir tentang masalah komunis di Indonesia adalah jelas satu tindakan yg paling biadab yg tak berperikemanusiaan dalam zaman ini, bagian terbesar dari ini jelas setara dengan kejahatan perang yg sama dengan tipe yg dilakukan oleh Nazi. Tak seorang pun orang Amerika dalam masa sesudah 1945 yg dahaga darah, sebagaimana yg dilakukan di Indonesia memprakarsai pembunuhan besar-besaran, & yg berbuat segala-galanya yg dalam kekuasaannya untuk mendorong Soeharto, termasuk mempersenjatai para pembunuh, untuk menyaksikan bahwa pelikuidasian PKI dilakukan hingga pada puncaknya.

Di tahun 1965, pemerintah Indonesia di bawah pimpinan Soeharto, membantai 500.000 anggota PKI. Amerika Serikat mendorong orang Indonesia menjalankan pembunuhan besar-besaran dengan memberikan bantuan diplomatik & materiil demi mendukung pembunuhan-pembunuhan tersebut.

BERKAT G30S, PENGUASA BARAT BERPESTA-PORA


Jumlah tepat mereka yg terbunuh tak akan pernah dapat diketahui. Kementerian Luar Negeri Amerika menaksir di tahun 1966, jumlah terbunuh sekitar 340.000. Data resmi yg diumumkan Indonesia pada pertengahan
tahun 1970 adalah 450.000 hingga 500.000 meninggal. Dalam bulan Oktober 1976, Laksamana Sudomo, Kepala Kopkamtib menyatakan dalam wawancaranya kepada wartawan Belanda, bahwa lebih dari 500.000 terbunuh. Amnesti Internasional mengutip sebuah sumber lain yg menyatakan lebih dari 700.000, & yg lainnya menaksir bahwa lebih dari dua juta orang meninggal - Sarwo Edhie Wibowo yg mengomandoi pengerahan punggawa baret merah Kostrad mengakui bahwa dalam peristiwa ini sudah terbunuh sebanyak empat juta manusia.


Sumur :
[Tim Weiner, Membongkar Kegagalan CIA: Spionase Amatiran Sebuah Negara Adidaya, Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2008, hal.186].

[Kulit buku karya Arnold C. Brackman, The Communists Collapse in Indonesia, W.W. Norton Inc. New York, First edition, 1969].

[Max Frankel, New York Times, 12 Maret 1966].

[Richard M. Nixon, Asia After Vietnam, Foreign Affairs, October 1967, p.111.].

[The Silent Slaughter, The Role of the United States in the Indonesian Massacre, Youth Against War and Fascism, 58 West 25 Street, New York, N.Y.10010, 1966].

[Memo of Conversation, 14 Februari 1966, RG 59, State Department Central Files 196466, POL 2 INDON, NA].

[Audrey R. Kahin & George Mc T. Kahin, Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower and Dulles Debacle in Indonesia, 1995].

[Gabriel Kolko, Confrontation the Third World: United States Foreign Policy 19451980, Pantheon Books, 1988]. Hari ini 16:22
 

Our Partner

Top